Monday, October 5, 2015

Kudeta PKI '65 - 13: Kudeta PKI 1965 Satu dari Enam Upaya Dekonstruksi Peradaban Nusantara


Oleh: Abdul Rohman

Pencermatan makro kesejarahan peristiwa G.30.llS/ PKI juga akan membimbing pemahaman kita bahwa peristiwa tersebut merupakan salah satu upaya subordinasi atau dekonstruksi peradaban Nusantara yang telah berlangsung sejak berabad-abad. Hal itu menunjukkan eksistensi peradaban Nusantara telah sejak lama menjadi pencermatan, sekaligus memiliki daya tarik bagi kekuatan-kekuatan kawasan lain untuk dikuasai atau ditaklukkan. Contoh upaya subordinasi atau dekonstruksi peradaban Nusantara antara lain Aneksasi Kubilai Khan, Perang Paregreg, Kolonialisasi Eropa, Kolonialisasi Jepang, Subordinasi Moskow dan RRC.

1. Aneksasi Khubilai Khan

Khubilai Khan adalah cucu Jenghis Khan, pendiri kekaisaran Mongol yang terkenal sebagai penakluk imperium-imperiun adikuasa pada zamannya. Imperium Mongol mampu menaklukkan kekaisaran Cina, Persia dan mendaratkan pasukannya hingga Eropa. Penaklukan terhadap imperium-imperium besar dilakukan secara mengesankan dengan capaian-capaian kemenangan.

Berbeda dengan capaian ekspedisi dalam penaklukan Nusantara ---yang dilakukan pada masa transisi Kediri-Majapahit--- karena telah berakhir dengan kegagalan. Pasukan Mongol berhasil dipukul mundur sebagai akibat kekalahan strategi yang dilancarkan Raden Wijaya dengan dukungan Adipati Sumenep, Arya Wiraraja. Pasukan Mongol pada awalnya dihadapkan dengan pasukan Kediri untuk kemudian ---pada saat mengalami kelelahan--- dilakukan serangan pendadakan. Akibatnya pasukan Mongol tercerai berai dan mundur ke negara asalnya.

2. Perang Paregreg: Destabilisasi Peradaban Nusantara

Setelah menyadari kecilnya kemungkinan menaklukkan Nusantara secara fisik ---seperti halnya kasus kekagagalan Kubilai Khan---, kekaisaran Cina melancarkan strategi belah bambu untuk menciptakan destabilisasi Nusantara yang tercermin dalam perang Paregreg. Sejarah formal hanya mengungkapkan Paregreg merupakan perang saudara dalam imperium kekaisaran Majapahit dan tidak menyinggung sebagai bagian dari skenario destabilisasi kekuatan kawasan lain terhadap eksistensi Nusantara. Akibatnya transformasi kesejarahan Paregreg tidak mampu menyadarkan sebagian penduduk Nusantara seputar adanya dinamika konflik antar kawasan sebagai background peristiwa.

Merujuk studi I Gusti Phalgunadi dan Slamet Mulyana, Victor M. Fic mengungkapkan background perang Paregreg (1406) adalah kompetisi kekuasaan antar kawasan, dimana kekaisaran Cina berambisi menaklukkan imperium Majapahit sebagai pengendali Nusantara. Untuk mengusai Nusantara kekaisaran Cina melancarkan dua proyek strategi disintegrasi. Pada lingkar luar ---kerajaan-kerajaan/ pangeran-pangeran yang secara geografis berjauhan dari pusat kerajaan Majapahit---, diberi status sebagai raja bawahan oleh kekaisaran Cina dan mendukungnya untuk memisahkan diri dari negara induk (Majapahit). Sedangkan untuk menusuk pusat imperium Majapahit, kekaisaran Cina memberi status raja bawahan kepada “Raja Timur” Wirabhumi dari Blambangan dan mengakui klaimnya atas Mahkota Majapahit serta memberikan dukungan diplomasi maupun penggunaan kekuatan militer melawan Raja Majapahit Wikramawardhana .

Walaupun pada akhirnya Wikramawardhana ---yang dibantu Bhre Tumapel dan Bhre Hyan Parameswara--- dapat menundukkan Wirabhumi dan Sekutu militernya dari Cina, Paregreg telah menenggelamkan Nusantara kedalam perang saudara berkepanjangan dan memunculkan disintegrasi yang hebat. Paregreg dan disintegrasi lingkaran-lingkaran terluar itu telah menusuk Majapahit secara bersamaan dari pusat induknya sendiri maupun lingkar-lingkar terluar sehingga menyebabkan kemunduran dan kematian Majapahit. Para sejarawan pada zamannya melukiskan pudarnya suprastruktur peradaban Nusantara yang gemilang itu sebagai “sirno ilang kertaning bumi” (hilang lenyap ditelan bumi). 

Situasi tersebut telah memunculkan sosok Sunan Kalijogo untuk melakukan gerakan struktural dan kultural. Gerakan struktural dilakukan dengan memintal pergeseran suprastruktur Majapahit dari sisa-sisa penguasa terakhir menuju Demak-Pajang dan Mataram. Sedangkan gerakan kultural dilakukan melalui pengembangan civil society pada wilayah-wilayah spiritual dan kelembagaan adat. Kedua institusi yang dikembangkan dan dikawal Sunan Kalijogo ini kelak menjadi modal terselenggaranya rekonstruksi peradaban Nusantara dan berujung pada Proklamasi Kemerdekaan 1945.

Pencermatan mikro kesejarahan Paregreg telah mengaburkan pemahaman makro peristiwa, sehingga berhasil dikesankan keruntuhan Majapahit akibat kemunculan kerajaan Islam Demak Bintoro yang sejatinya merupakan kelanjutan Majapahit sendiri. Pencermatan mikro kesejarahan itu telah mengaburkan pemahaman sebagaian generasi bangsa terhadap penyebab keruntuhan peradaban Nusantara dalam perspektif konflik antar kawasan. Banyak generasi bangsa tidak lagi memahami faktor keruntuhan peradaban Nusantara adalah keberhasilan kekaisaran Cina dalam melancarkan strategi disintegrasi kawasan Nusantara dan puncaknya menimbulkan Paregreg.

Pencermatan Paregreg sebagai konflik kekuatan antar kawasan harus dilihat dalam perspektif kebijakan ekspansionis dan bukan pola relasi antar masyarakatnya. Sejarah juga mencatat pola relasi harmonis antara warga Nusantara dengan masyarakat Cina dalam kerangka hidup berdampingan secara damai dan kerjasama yang tidak merugikan satu sama lain. Kebijakan ekspansionis itu harus diverifikasi dalam kerangka kebijakan sebuah rejim atau faksi-faksi tertentu dalam masyarakat Cina.

3. Kolonialisasi Eropa: Spanyol-Portugis-Belanda-Inggris 

Kekosongan suprastruktur pengendali peradaban Nusantara ---akibat Paregreg--- telah memungkinkan masuknya kolonialis Eropa tidak memperoleh perlawanan berarti. Pada saat hampir bersamaan, Sunan Kalijogo masih berkutat untuk menyelamatkan sisa-sisa suprastuktur ---pelanjut imperium Majapahit--- dan pengembangan civil society. Penderitaan hebat akibat kolonialisasi dan mulai terkonsolidasinya civil-civil society ---hasil kerja keras yang disemaikan oleh Sunan kalijogo---, telah membuka kesadaran kenusantaraan berdimensi lokal yang ditandai dengan perlawanan-perlawanan rakyat terhadap Kolonialis Eropa.

Selama hampir empat abad melakukan penguasaan secara politik-ekonomi-pemerintahan-militer dan pada akhirnya sampai datangnya masa gelap Eropa ---kekejaman Hitler---, kolonialis Eropa tidak pernah bisa memadamkan kesadaran dan spirit kenusantaraan yang terpendam dalam masyarakat Nusantara. Kolonialis Eropa, secara fisik berhasil melakukan penguasaan, akan tetapi tidak mampu mendekonstruksi (menghancurkan) aspek-aspek idiologis dan kultural masyarakat Nusantara. Pada penghujung kekuasaan kolonialis Eropa, spirit kenusantaraan ---yang disemaikan Sunan Kalijogo melalui kelembagaan kultural dan kalangan Keraton/ Ningrat--- telah bermetamorfosa dalam bentuk kesadaran dalam kalangan terdidik (nasionalis) untuk merekonstruksi peradaban Nusantara dalam format Indonesia Merdeka. Kelangsungan transformasi spirit kenusantaraan itu menjadikan pola relasi antara negara Indonesia modern dengan bekas penjajahnya tidak sama dengan pola relasi antara India dengan Inggris yang masih terjalin dalam ikatan batin negara persemakmuran.

4. Kolonialisasi Facisme Jepang, 

Sebagaimana diprediksi Joyoboyo, pembebasan Nusantara seiring dengan datangnya pasukan kate (tubuh pendek) dari utara (Jepang). Kedatangan itu bukan dalam kerangka kesetaraan untuk membela saudaranya dari cengkeraman kolonialis Eropa, akan tetapi membawa misi menjadikan Nusantara sebagai penopang eksistensinya melawan Sekutu dengan kamuflase persaudaraan Asia Raya. Walaupun tidak berlangsung lama, keberadaan Jepang di Nusantara telah membawa penderitaan mendalam bagi seluruh rakyat Nusantara. Sejarah membuktikan janjinya memberi kemerdekaan untuk Indonesia tidak pernah terwujud, karena sesaat setelah kekalahannya dari Sekutu, Jepang segera tunduk pada hukum-hukum Sekutu. Salah satu ikatan hukum Sekutu pada Jepang adalah mengembalikan daerah pendudukan kepada pemilik koloni sebelumnya (Belanda).

Pendeknya periode kehadiran Jepang ---walaupun amat keras dan kejam--- juga tidak mampu mendekonstruksi nilai-nilai kultural Nusantara. Penghormatan pada Kaisar dan penyembahan pada Dewa Matahari yang dipaksakannya dengan kejam juga tidak memiliki bekas dan bahkan menjadi pemicu penentangan masyakat Nusantara yang tetap taat pada keyakinannya. 

5. Subordinasi Moskow: PKI Muso Madiun (1948)

Subordinasi Komunisme Moskow terhadap Nusantara dilakukan melalui intervensi idiologis Komunisme dalam ikatan organisasi Comintern (Komunisme internasional). Melalui kader-kadernya di Indonesia, Comintern ---dalam poros Moskow--- mendorong perebutan kekuasaan secara fisik di Indonesia untuk kemudian melakukan dekonstruksi idiologi (spirit dan nilai-nilai kenusantaraan) dengan Komunisme. Keberhasilan subordinasi Komunis terhadap Nusantara akan memiliki dampak lebih hebat jika dibandingkan dengan akuisisi fisik Kubilai Khan, kolonialis Eropa maupun Jepang. Ketiganya hanya menekankan pada aspek fisik yaitu penguasaan wilayah dan eksploitasi sumber daya alam Nusantara. Sedangkan gerakan Komunisme menyasar dua aspek sekaligus yaitu penguasaan suprastruktur dan dekonstruksi nilai-nilai idiologis Nusantara untuk digantikan dengan paham dan sistem Komunis.

Pola subordinasi Komunis memiliki kemiripan dengan strategi disintegrasi kekaisaran Cina dengan menciptakan agen-agen kekuasaan untuk kemudian mengambil alih atau menumbangkan pemegang kendali pemerintahan yang sah dalam Nusantara. Bedanya, rencana kekaisaran Cina dibalut secara terang-terangan oleh kepentingan pragmatis dengan menjanjikan dukungan kepada pangeran-pangeran untuk menjadi raja yang sah. Untuk selanjutnya raja-raja tersebut ditempatkan sebagai bawahan kekaisaran Cina. Sedangkan skenario Komunis dibalut oleh transformasi dan ikatan idiologis, untuk kemudian mengambil alih kekuasaan yang sah dan menggantinya dengan paham maupun sistem Komunis. Pada tahap selanjutnya, subordinasi dilakukan dengan ikatan kebijakan Comintern.

Melalui ikatan Komunisme, Moskow mendorong Muso untuk melakukan perebutan kekuasaan dan menjadikan Indonesia sebagai negara Komunis. Pada tahap berikutnya intervensi dan pengendalian Moskow terhadap Indonesia dilakukan melalui PKI/ Muso dalam ikatan kebijakan Comintern. Adanya ikatan kebijakan Comintern dengan sendirinya menggugurkan kader-kader Komunis Indonesia yang mengklaim tindakanya sebagai bagian perjuangan rekonstruksi peradaban Nusantara. Terdapat perbedaan tajam antara kesadaran kenusantaraan (dalam aspek cakupan teritori fisik, idiologis maupun motif dan tujuan perjuangan) dengan motif perjuangan kaum Komunis. Perjuangan kenusantaraan menekankan tegaknya kembali peradaban Nusantara ---dengan segala aspek idiologis yang melatarinya---, sedangan perjuangan kaum Komunis hendak menjadikan semua bangsa menganut dan mengikuti serta dibawah kendali Komunisme.

6. Subordinasi Cina: PKI Aidit (1965)

Subordinasi Komunisme Cina terhadap Nusantara memiliki kemiripan pola dengan strategi Komunisme Moskow. Komunis Cina mendorong kader-kader Komunis Indonesia ---yang berada dalam ikatan kebijakan Comintern dan kini berporos ke Cina--- untuk melakukan perebutan kekuasaan dan menggantinya dengan paham maupun sistem Komunis. Intervensi Komunis Cina terhadap Indonesia juga dilakukan melalui PKI dalam ikatan kebijakan Comintern.

Perbedaan pola subordinasi Komunis Moskow dan Komunis Cina terletak pada asek kesejarahan tarik ulur kekuatan kekuasaan kawasan antara Cina dan Nusantara. Moskow tidak memiliki kesejarahan dalam berhadapan dengan kekuatan Nusantara. Motifnya bersentuhan dengan eksistensi kekuasaan Nusantara murni dilatarbelakangi motif idiologi Komunisme yang ekspansionis secara idiologis dan kemudian melakukan penguasaan negara. Sedangkan ekspansi RRC selain dilatarbelakangi motif ekspansionisme idiologi Komunis juga oleh aspek kesajarahan yang dalam waktu panjang memiliki ambisi menaklukkan Nusantara. Skenario Cina Komunis terhadap Indonesia akan memiliki dampak lebih besar karena merupakan perpaduan antara motif ekspansionis idiologi Komunis dan motif kesejarahan untuk menaklukkan Nusantara.

Kesamaan keduanya ---Komunis Moskow dan Komunis Cina--- adalah sifat dekonstruktif idiologi Komunisme terhadap idiologi berbeda dan internasionalisme idiologi itu. Skenario Moskow maupun Cina (kudeta Madiun dan tahun 1965) pada akhirnya akan mendekonstruksi peradaban Nusantara untuk dijadikan masyarakat Komunis terlepas dari indentitas asli kebangsaanya. Apapun argumentasi yang hendak dikedepankan eks kader-kader PKI, keberhasilan kudeta 1965 akan memutus upaya rekonstruksi peradaban Nusantara yang diformulasikan kedalam format Indonesia merdeka. Idiologi internasional tak lain merupakan sarana awal penundukan atas sebuah bangsa.

Jika enam dekonstruksi itu ditambahkan dengan serangan Kerajaan Cola Mandala India yang akhirnya menyebabkan pelapukan Sriwijaya, dan peristiwa 1998 yang akhirnya memangkas skenario Indonesia tinggal landas, maka eksistensi Nusantara telah mengalami setidaknya 8 (delapan) kali upaya besar untuk ditakhlukkan.

Sejarah ekpansionis terhadap Nusantara itu dahulu di jawab oleh Gajah Mada dengan Sumpah Palapa yang pada intinya membangun cincin pertahanan. Bahwa negara-negara lingkar luar Nusantara harus bisa dikelola sejalan dengan visi pembangunan Nusantara, agar tidak menjadi batu locatan ekspansi ekternal ke jantung Nusantara. Pada era Presiden Soeharto, konsepsi itu di manivestasikan kedalam konsep ASEAN WAY, Asean untuk ASEAN. Lepas dari intervensi kawasan manapun walaupun tetap fleksibel menjalin kerjasama dengan kawasan manapun di dunia.




Sudah selayaknya Komunisme tidak diberi ruang untuk tumbuh menjadi idiologi negara menggantikan Pancasila.