Thursday, October 1, 2015

Kudeta PKI 1965 Bagian 12 : Soekarno-Soeharto Berenang Diantara Dua Karang (Keempat)

Apabila kita potret dalam perspektif perulangan sejarah, eksistensi peran Mayjen Soeharto dalam penumpasan G.30.S/PKI memiliki kemiripan substansi dengan peran Gajah Mada ketika membebaskan rajanya dari pemberontakan Kuti. Melalui proses yang tidak sederhana ---ditengah kecurigaan siapa kawan siapa lawan---, Gajah Mada mampu memobilisir pendukung setia raja untuk menumpas pemberontakan dan mengembalikan raja pada singgasananya. Sedangkan dalam aspek motif spiritual memiliki kemiripan dengan tindakan Ken Arok menghentikan kekejaman raja Kediri melakukan penindasan terhadap kalangan agamawan. Guru-guru spiritual korban kekejaman raja Kediri meminta perlindungan kepada Ken Arok yang pada akhirnya menjadi energi penggerak bagi dirinya untuk menumbangkan raja Kediri. 

PKI telah memperlakukan dengan keji kepada guru-guru spiritual, khususnya terekam dengan sangat baik dalam peristiwa Madiun. Pada tahun 1965, PKI juga telah mempersiapkan skenario pembantaian lebih banyak lagi guru-guru spiritual dan telah memicu “Civil War”. Apabila dicermati, pembantaian terhadap guru-guru spiritual dan perilaku dekonstruktif terhadap falsafah Nusantara juga merupakan energi bagi Mayjen Soeharto untuk tidak ragu-ragu menumpas PKI beserta onderbouw-nya.

Proses pergeseran kekuasaan Soekarno-Soeharto juga memiliki kemiripan substansi dengan proses peralihan kekuasaan raja Pajang Joko Tingkir (Sultan Hadiwijaya) kepada raja Mataram Danang Sutawijaya (Panembahan Senopati). Atas jasanya meredam Aryo Penangsang, Danang Sutawijaya memperoleh wilayah perdikan yang secara perlahan-lahan dikelolanya sebagai kota besar sehingga mampu menandingi kemashuran Pajang. Joko Tingkir sudah memasuki masa senja ketika Panembahan Senopati sedang tumbuh dan memposisikan diri sebagai kandidat pengendali imperium baru. Melalui proses dinamika dengan tetap menempatkan Joko Tingkir sebagai sosok yang dihormati, Panembahan Senopati mengukuhkan eksistensi kekuasaannya. 

Joko Tingkir segera memahami energi kekuasaanya sudah memasuki masa surut dan tidak memaksakan diri menghentikan Panembahan Senopati yang sinar kekuasaannya sedang tumbuh. Pangeran Benowo (pewaris kekuasaan Joko Tingkir) mengambil sikap serupa dengan ayahnya dengan tidak memaksakan diri melanjutkan imperium Pajang. Ia dan para pelanjutnya mengabdikan diri pada wilayah peran sebagai guru-guru spiritual. Rekonsiliasi dilakukan melalui proses pernikahan antara Panembahan Senopati dengan salah satu putri Joko Tingkir sehingga tidak menimbulkan konflik berkepanjangan pada tingkat masa grassroot. Peristiwa itu dapat kita petik pelajaran bahwa sikap kenegarawanan penerus imperium Pajang telah menyelamatkan rakyat dari pertikaian berkepanjangan.

(Selesai)

Sudah selayaknya Komunisme tidak diberi ruang untuk tumbuh menjadi idiologi negara menggantikan Pancasila.