Thursday, October 1, 2015

Kudeta PKI 1965 Bagian 12 : Soekarno-Soeharto Berenang Diantara Dua Karang (Pertama)


Oleh: Abdul Rohman

Peran Presiden Soekarno dan Mayjen Soeharto dalam peristiwa G.30.S/PKI dapat dipahami secara jelas melalui pencermatan makro kesejarahan, sebagai mata rantai tak terpisahkan usaha-usaha masyarakat Nusantara melakukan rekonstruksi eksistensi peradabannya. Soekarno ditakdirkan muncul dalam panggung sejarah, manakala perjuangan panjang masyarakat Nusantara berada dalam ujung keberhasilan membebaskan dirinya dari cengkeraman kolonialisme Eropa dan Jepang. Sejak Paregreg , suprastruktur penyangga peradaban Nusantara mengalami proses pelapukan. Sunan Kalijogo  ----sosok sufistik Jawa, juga keturunan imperium Majapahit---, dengan susah payah menyelamatkannya dari kepunahan melalui penyelamatan suprastruktur dan gerakan kultural untuk pemberdayaan civil society. 

Penyelamatan suprastruktur dilakukan dengan memandu rotasi puncak kendali kekuasaan Nusantara mulai dari masa akhir kekaisaran Majapahit-Demak-Pajang hingga era Mataram. Selain menjadi media persemaian nilai-nilai kenusantaraan, kerajaan-kerajaan tersebut ---walaupun teritori fisiknya mengalami penyempitan dan pengaruhnya menjadi terbatas--- telah menjadi simbol tetap tegaknya eksistensi peradaban Nusantara. Gerakan kultural dilakukan dengan menumbuhkan sebanyak mungkin civil society di seluruh wilayah Nusantara, melalui peran guru-guru spiritual maupun tokoh-tokoh adat beserta kelembagaannya. Selain menjadi wahana tempaan ketahanan spiritual masyarakat, kelembagaan-kelembagaan kultural juga mentransformasikan kesadaran kesejarahan, spirit dan nilai-nilai kenusantaraan. 

Upaya Sunan Kalijogo telah menyebabkan gelombang kolonialisasi Eropa tidak berhasil melakukan dekonstruksi (pembongkaran) kesadaran kesajarahan, nilai-nilai dan spirit kenusantaraan. Eropa memang berhasil dalam misi gold dan glory, namun tidak dalam hal gospel. Kendali ekonomi dan politik telah jatuh dalam cengkeraman Eropa selama hampir empat abad, namun nilai dan spirit kenusantaraan masih tetap tumbuh dengan subur. Bermula dari kedua institusi ini pula (kerajaan-kerajaan dan gerakan kultural), tokoh-tokoh pergerakan bangsa kelak bermunculan khususnya dari kalangan ningrat dan tokoh-tokoh kultural. 

Munculnya masa gelap Eropa --yang ditandai dengan proyek kekejaman kemanusiaan Hitler di daratan Eropa--- dan “frustasi” Amerika untuk dapat segera mengakhiri PD II ---dengan menjatuhkan bom atom di Hirosima dan Nagasaki--- mengantarkan kolonialis Eropa dan Jepang turut merasakan makna penderitaan sebuah bangsa terjajah. Kendornya cengkeraman keduanya atas Nusantara dimanfaatkan Soekarno beserta generasinya untuk melakukan penyelesaian akhir proses rekonstruksi peradaban Nusantara dalam bentuk bangunan Indonesia Merdeka. Generasi Soekarno sendiri disiapkan juga oleh Generasinya Cokroaminoto di gang Paneleh Surabaya.

Soekarno tampaknya terinspirasi prediksi Joyoboyo  yang salah satunya menyatakan momentum pembebasan Nusantara seiring dengan datangnya pasukan kate (tubuh pendek) dari utara (tentara Jepang). Maka ia begitu kooperatif dengan Pemerintah Jepang dan percaya akan memenuhi janji memberikan kemerdekaan bagi masyarakat Nusantara. Ketika Jepang menderita kalah dan tunduk pada hukum (perjanjian dengan) Sekutu ---sehingga tidak bisa mewujudkan janjinya--- Soekarno dengan sigap memproklamasikan kemerdekaan bangsanya . Soekarno beserta generasinya juga berhasil menyusun Dasar Negara (Pancasila) dan kerangka penyelenggaaraan Negara (UUD 1945).

Kemerdekaan RI ---yang diproklamirkan Soekarno-Hatta--- berada dalam bayang-bayang perjanjian Wina tahun 1942. Melalui perjanjian itu, negara-negara Sekutu menjalin kesepakatan mengembalikan wilayah pendudukan Jepang kepada pemilik koloni sebelumnya, jika berhasil mengusir Jepang dari daerah pendudukan. Tugas Soekarno ---yang segera ditunjuk sebagai Presiden--- adalah memobilisasi seluruh kekuatan rakyat untuk merobek perjanjian Wina. Periode berikutnya, Soekarno dihadapkan pada proses panjang dan berliku pertempuran fisik dan diplomasi internasional untuk mempertahankan negara Proklamasi tahun 1945. Ketika Negara Proklamasi 1945 nyaris terkubur oleh tusukan kuat pasukan Belanda, Letkol Soeharto ---komandan Wehrkreise III Yogyakarta, ketika itu berusia 28 tahun--- menyajikan harapan baru. Keberhasilannya melancarkan Serangan Umum 1 Maret 1949 telah memungkinkan Soekarno beserta tim diplomasinya untuk mempengarui dunia internasional agar Belanda bersedia berunding dengan pihak RI. Pada tahun 1949, secara resmi pemerintah Kerajaan Belanda mengakui Kedaulatan RI dan akan menyerahkan Irian Barat satu tahun setelahnya. Penyerahan itu nantinya menjadikan seluruh wilayah bekas koloni Belanda di Nusantara menjadi wilayah RI. 

Proses panjang itu menyadarkan Soekarno betapa Negara-negara Barat tidak kooperatif terhadap rencana masyarakat Nusantara melakukan rekonstruksi peradabannya. Butuh waktu 4 tahun bagi bangsa Indonesia untuk memaksa Negara-negara Barat melepaskan dukungannya terhadap Belanda dalam menguasai kembali Indonesia. Bahkan hingga beberapa tahun berikutnya, pengakuan kedaulatan itu masih menyisakan pengingkaran Belanda dengan mengolor-olor waktu penyerahan Irian Barat. 

(Bersambung. . .)
Sudah selayaknya Komunisme tidak diberi ruang untuk tumbuh menjadi idiologi negara menggantikan Pancasila.